Yang viral di sosial media tentang e-book yang ditulis seorang public figure. Review Broken Strings E-book dari Sudut Pandang Saya.
Review Broken Strings
Salah seorang public figure yang bernama Aurelie Moeremens, menulis sebuah e-book yang berjudul Broken Strings. Secuil kisah nyata dari masa mudanya yang di ceritakan kembali dengan jujur dan apa adanya. Bukan kisah yang biasa, tapi kisah pahit dimana saat berusia 15 tahun dia mengalami child grooming.
Tidak banyak orang yang mau mengulang kembali ingatannya untuk menuliskan kisah pahitnya ini. Setelah 15 tahun kemudian, dia punya keberanian menuliskan hal ini. Ini bisa jadi karena saat ini dia sudah punya orang-orang yang membuat dia merasa aman di sekelilingnya. Kehidupan yang membahagiakan dan support system yang baik.
Kisah ini menjadi pembelajaran kita semua. Kebetulan sekali profesi penulis adalah sebagai public figure. Dengan cepat e-book ini mendapat perhatian dari masyarakat luas karena di taruh di link sosial medianya yaitu instagram untuk bisa di baca gratis.
Penulis berasal dari latar belakang dua budaya berbeda dari kedua orang tuanya. Ayahnya berkebangsaan Belgia dan ibunya adalah orang Indonesia. Wajahnya yang blasteran dengan kulit sawo matang yang berasal dari garis ibunya membuat dia bisa masuk seleksi ke dunia entertainment di kala masih kecil. Di dalam bukunya sekitar 13 tahun sudah mulai ikut audisi untuk pemilihan model dan merambah ke dunia akting.
Ringkasan Sedikit
Meringkas sedikit dari isi buku, Penulis memulai terjun ke dunia seni di saat sudah memasuki usia sekolah, mengalami kebingungan di lingkungannya. Berinteraksi dengan semua kalangan usia saat ditempat kerja. Bagaimana harus bersikap dan merespon dalam interaksi sosial sehari-hari. Orang-orang yang ditemui yang ternyata memang tidak semua adalah orang yang punya niat baik. Kebetulan bertemu dengan seorang dewasa yang bukan melindungi tapi justru mengontrol si anak, dengan terlebih dahulu masuk ke keluarga si anak sehingga sosoknya menjadi familiar di tengah keluarga.
Disaat itulah sosok yang di kira menjadi pelindung dan tidak berbahaya justru mengintimidasi, mengontrol dan memperalat kelemahan si anak. Pada akhirnya melancarkan ancaman. Pribadi anak yang tumbuh kurang percaya diri semakin terpuruk dan semakin menutup diri dari orang tuanya yang sesungguhnya ingin berusaha menyelamatkannya.
Orang tuanyapun sulit mengakses anaknya yang sangat perlu bantuan. Namun pada akhirnya seiring berjalannya waktu Aurelie menyadari untuk mulai terbuka dengan lingkungan sekitar dengan apa yang di alami. Komunikasi dengan orang tua yang terbatas pada akhirnya.
Mengambil Hikmah
Dari Aurelie kita belajar, Pentingnya peran orang tua mendampingi tumbuh kembang anak sehingga anak menjadi lebih terbuka menceritakan kegiatannya baik di sekolah ataupun kegiatan di luar sekolah.Terlebih lagi jika sudah bekerja di masa muda yaitu dunia seni.
Di usia yang masih sangat muda, pengetahuan dasar anak berasal dari rumah. Ada kalanya orang tua tidak punya banyak waktu untuk mengobrol bareng dengan anak.
Bagi saya membaca buku ini bukan hendak menilai siapa yang salah. Kenapa bisa terjadi hal seperti ini hingga sempat muncul trauma.

Baca juga : Kedutaan Bangladesh Jakarta Pindah Alamat Kantor
Mungkin orang tua punya cara yang berbeda untuk melindungi anak. Namun tidak ada sekolah orang tua. Pendekatan kepada anak bukan hanya di larang untuk tidak boleh ini dan itu namun juga menjelaskan alasan dilarang itu sendiri. Setiap anak berbeda, ada yang cepat belajar dari lingkungannya dengan percaya diri dan ada yang tidak.
Di negara Indonesia, perlindungan anak juga punya komisinya di singkat Komnas Perlindungan Anak. Jika membutuhkan pendampingan dan konsultasi. Diharapkan bisa lebih baik dalam melayani untuk kasus anak di masyarakat.